Shinta W. Kamdani

SUKSES DALAM BISNIS DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Kami bertemu dengannya pada suatu sore, di sela-sela jadwalmeeting yang begitu padat. Managing Director of Sintesa Group, Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim ini tetap terlihat bersemangat, walau hari itu masih harus melewati serangkaian agenda hingga larut malam. Dari obrolan yang cukup singkat dengannya, kami  mendapat begitu banyak inspirasi. (Fotografer: Windy Sucipto)

 4 kata yang mewakili seorang Shinta Widjaja Kamdani….

Saya percaya dengan 4E. Pertama, Empowerment.Saya ingin mengembangkan orang lain lewat pekerjaan saya. Kedua, Enterpreneurship. Saya terpanggil mengembangkan lebih banyak lagi jiwa-jiwa wirausaha, seperti yang saya tanamkan dalam diri saya sendiri. Ketiga, Excellent. Apa pun yang saya maupun perusahaan lakukan, harus dengan cara terbaik. Terakhir, Emphaty. Kita tidak pernah bisa hidup sendiri, untuk itu kita pun harus peduli terhadap komunitas kita.

Kenapa begitu peduli terhadap lingkungan hidup?

Saya peduli terhadap lingkungan sejak muda. Sudah sekitar 15 tahun saya tergabung di WWF Indonesia, bahkan menjadi anggota termuda saat WWF Indonesia dibentuk. Saya banyak belajar dari luar soal ekonomi hijau, lalu mencari apa yang bisa saya lakukan di Indonesia. Seiring waktu, saya melihat bahwa ekonomi hijau memang sangat bisa dikembangkan di Indonesia. Industri dan bisnis yang ramah lingkungan itu sangat penting. Passion saya sendiri makin besar di bidang ini.

Apa tantangan terberat selama terjun ke dunia bisnis?

Masa transisi adalah masa terberat bagi saya. Karena bisnis yang saya pegang adalah bisnis keluarga, otomatis ada warisan yang ingin diturunkan. Nah, challenge-nya adalah saat saya datang kepada ayah saya, memberanikan diri mengatakan bagaimana saya melihat perusahaan ini ke depan, walaupun saya sangat paham visi yang selama ini diwariskan. Saya berusaha menempatkan diri saya tidak hanya sebagai eksekutif, tapi juga pemilik. Dan itu tak mudah.

Bisa saja saya mengikuti yang sudah ada, atau tinggal menjalankan posisi yang sudah dipercayakan kepada saya, tapi saya ingin memiliki sesuatu, menyisipkan identitas saya sendiri di dalam perusahaan yang saya miliki sekaligus saya pimpin. Setelah melewati masa itu, saya baru merasa lega.

Sejak kapan Anda tertarik pada bisnis?

Sejak kecil yang saya tahu hanyalah bisnis. Saya tumbuh di keluarga pebisnis dan topik pembicaraan sehari-hari tak jauh dari bisnis. Itu membentuk saya menjadi pribadi yang aktif. Saya juga sudah tahu suatu hari nanti akan melanjutkan usaha keluarga, walau tak pernah diminta secara langsung. Memang inilah jalan hidup saya.

Bisa ceritakan,  suka-duka Anda menjalankan bisnis keluarga?

Menjalankan bisnis keluarga itu tak mudah. Positifnya, saya mendapat dukungan dan kepercayaan yang begitu besar. Namun, campur tangan keluarga cukup besar sehingga bisa saja mengesampingkan profesionalisme.  Saya pun harus membuktikan saya memegang posisi ini karena memang mampu, bukan karena saya siapa. Pembuktian dan tantangan demi tantangan semacam ini penuh dengan suka dan duka.

Bekerja sejak usia muda, bagaimana Anda melewati masa remaja?

Saya rasa kehidupan saya cukup seimbang. Saya bekerja sejak remaja, tapi bukan berarti saya tidak memiliki kehidupan sosial yang cukup. Mungkin bedanya, kalau saat liburan sekolah anak lain hanya menikmati liburan dengan jalan-jalan, saya jalan-jalan sambil tetap bekerja. Sejak umur 13 tahun, saya sudah mulai bekerja. Orangtua memang membiayai semua kebutuhan saya, tapi kalau ingin mendapatkan tambahan uang jajan, saya diharuskan bekerja. Saya tahu, didikan keras orangtua saya itu untuk menekankan bahwa dari mana pun saya berasal, dari keluarga mampu atau tidak, bekerja sudah menjadi kewajiban. Kaki kita harus terus menginjak tanah, apa pun pencapaian kita.

Bagaimana membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga? dan Apa yang dilakukan saat me time?

Kuncinya pada kualitas, bukan kuantitas. Kita mesti disiplin waktu dan memiliki fokus yang jelas. Jadi, ketika di kantor fokus kita sepenuhnya pada urusan pekerjaan, sementara ketika di rumah fokusnya 100% untuk keluarga, sehingga permasalahan di kantor wajib ditinggalkan. Namun, bukan berarti saya tak membutuhkan waktu untuk refleksi diri. Saya juga selalu berusaha memperbaiki kekurangan dan juga mengubah cara kerja yang dianggap kurang efektif. Fleksibel saja.

Kuncinya pada kualitas, bukan kuantitas. Kita mesti disiplin waktu dan memiliki fokus yang jelas. Jadi, ketika di kantor fokus kita sepenuhnya pada urusan pekerjaan, sementara ketika di rumah fokusnya 100% untuk keluarga, sehingga permasalahan di kantor wajib ditinggalkan. Namun, bukan berarti saya tak membutuhkan waktu untuk refleksi diri. Saya juga selalu berusaha memperbaiki kekurangan dan juga mengubah cara kerja yang dianggap kurang efektif. Fleksibel saja.

Menurut Anda, bagaimana seharusnya perempuan menempatkan diri dalam karier dan keluarga?

Bagi saya, prioritas utama tetaplah keluarga. Bohong kalau perempuan bisa menjalankan perannya secara seimbang di pekerjaan dan keluarga, walau keinginan itu selalu ada. Pada akhirnya, kita harus menempatkan keluarga di urutan pertama. Sebagai seorang istri dan ibu, mengurus keluarga adalah tugas utama saya. Kalau saya gagal dalam keluarga, sesukses apa pun karier saya, saya tetaplah perempuan yang gagal.

Lalu, apa yang harus dilakukan perempuan agar bisa mencapai kesuksesan?

Perempuan harus memiliki jati diri dan motivasi yang kuat untuk mencapai mimpi. Sayangnya, saya melihat banyak perempuan Indonesia tidak berani mengembangkan diri dan lebih memilih berdiri di belakang pasangan, padahal mereka memiliki potensi dan ide bisnis luar biasa. Ini yang harus kita benahi, karena itulah saya mendukung banyak program perempuan. Salah satu yang sedang saya kembangkan adalah women entrepreneurship.

Terakhir, boleh membagi satu quote untuk Fimelova?

How to become a selfless person. Kita harus menjadi seorang yang selfless. Seperti Mother Teressa yang tak pernah menargetkan akan mendapat apa, tapi memikirkan apa yang bisa diberikan untuk orang lain. Bukan saatnya lagi memikirkan diri sendiri, tapi bagaimana hidup kita bisa bermanfaat untuk lingkungan.

Sumber : Fimela.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s