Johny Gunawan – Finding Your Passion – CareerAD & IGW Consulting

Johny Gunawan

CareerBuilder Indonesia berkesempatan bertemu dengan pria muda berbakat yang hanya memiliki ijasah SMP “O Levels”, tetapi sekarang menjadi Director perusahaan CareerAD & IGW Consulting. Pria keturunan Indonesia – China ini, sejak kecil sudah diajarkan mandiri dalam menjalani hidup. Karena dari umur 5 tahun ia sudah dikirim ke Singapore untuk menjalani pendidikan disana. Johny mengatakan bahwa “English is my first language”, karena dari umur 5 tahun hingga lulus SMP “O Levels” saya tidak tinggal di Indonesia. Setelah lulus sekolah, Johny melanjutkan kuliah di Monash University mengambil jurusan Computer Science, sebab pada saat itu Johny sangat senang bermain game komputer dan nilai matematikanya cukup bagus. Setelah berdiskusi dengan gurunya mengenai jurusan apa yang pas untuk diambil, ternyata computer science yang tepat untuk Johny.

Terkadang hidup itu tidaklah mulus jalannya, setelah 2 tahun Johny kuliah di Melbourne terjadilah krisis moneter di tahun 97/98 yang pada saat itu mata uang asing naik 3 sampai 4 kali lipat dari nilai sebelumnya. Hal ini membuat Johny drop out dari Monash University karena masalah biaya. Orang tua Johny menawarkan pilihan antara balik ke Indonesia atau tetap tinggal di Melbourne, tetapi dengan biaya sendiri. Pilihan yang cukup berat harus dipilih oleh Johny, dengan pertimbangan ia selalu tinggal sendiri di luar negeri dan ia berfikir, “Saya mau jadi apa kalau tinggal di Indonesia? ”Maka Johny memutuskan untuk tetap tinggal di Melbourne.Harus bertahan hidup tanpa bantuan dari orangtua membuat Johny harus memutar otak bagaimana cara bertahan hidup di negara orang.

Setelah Johny DO dari Monash, ia tidak putus asa begitu saja. Karena kuliah di Monash terlalu mahal, apalagi sekarang harus membiayai diri sendiri dengan uang pribadi. Karena itu, ia mencari kuliah yang lebih murah yaitu dengan mengambil D3 pada sebuah TAFE college local di Melbourne. Untuk bertahan hidup dan membayar kuliah, Johny melakukan segala cara seperti bekerja sebagai pengantar pizza, waiter, penjual handphone, dan store keeper di 7-Eleven. Semua itu dilakukan dalam satu hari, suatu perjuangan yang besar dilakukan oleh Johny untuk bertahan hidup.

Perjuangan Johny pun berbuah hasil, ia mendapat kenalan ketika bekerja di 7-Eleven dan menawarkan pekerjaan kantoran. Johny mengatakan “Puji Tuhan setelah perjalanan panjang, akhirnya saya mendapatkan kerja kantoran menjadi call center IT Consultant”. Setelah ia mendapatkan pekerjaan ini, mulailah ia merasa tenang karena ia tidak harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup selama disana.

Tiba-tiba Johny mendapatkan berita orang tuanya sakit. Hal itu membuat ia kembali ke Indonesia, tetapi ia tidak langsung kembali ke Indonesia, Johny ke Singapore terlebih dahulu untuk mencari pekerjaan disana. Alhasil, ia mendapatkan pekerjaan sebagai trainer IT di sebuah sekolah menengah pertama, rencana awal ia ke Singapore yaitu untuk melanjutkan kuliah yang ditinggalkan waktu di Melbourne. Namun, Tuhan berkehendak lain, orang tua dari Johny sakitnya semakin kritis, akhirnya dia harus kembali ke Indonesia tanpa satu gelar pendidikan.Tidak mempunyai bekal gelar pendidikan untuk mencari uang di Jakarta, tidak membuat hati/kemamuan Johny menjadi berkurang. Malah, ia semangat untuk mencari pekerjaan, ia tidak langsung melamar ke suatu perusahaan, melainkan mengikuti training/seminar mengenai bisnis dan dunia kerja. Selanjutnya Johny mulai mengerti apa itu bisnis, lalu tujuan kerja untuk hidup.

Kemudian Johny mendapat tawaran dari salah satu karyawan yang mengadakan training tersebut.Sebab Johny orangnya supel dan mudah menangkap materi yang diberikan oleh trainer, maka ia direkrut sebagai volunteer awalnya. Tidak mendapat bayaran tidak mengecilkan hati Johny, karena ia berfikir, “Kapan lagi bisa dapat training gratis plus dapat makan all you can eat di hotel?”.

Berawal dari volunteer ternyata Johny tidak menyianyiakan kesempatan ini. Karena Johny suka belajar, selama menjadi volunteer mempelajari semua hal mengenai training. Selanjutnya, Johny ditawari sebuah posisi oleh atasannya “John mau gak jadi bisnis manager?” Dia pun mengatakan “Hmmm. Oke”. Maksud manager disini yaitu mengurusi marketing untuk training mulai dari kerjasama dengan media, ngurusin trainer, dan ngurusin volunteer.

Ternyata Johny menyadari bahwa inilah Passion dia, melihat orang lain bisa karena apa yang ia ajarkan merupakan suatu kepuasan tersendiri. Dan melakukan pekerjaan trainer tanpa melihat berapa gaji yang didapat.Hal ini adalah salah satu hal cara untuk mengetahui apakah pekerjaan tersebut Passion kita atau bukan.Bekerja sesuai dengan Passion memberikan hasil yang sangat baik untuk kita, contohnya ya Johny. Karena ia bekerja sesuai Passion, pada umur 35 tahun sudah menjadi Direkturdi sebuah perusahaan training di Jakarta yang bernama CareerAD & IGW Consulting.

Careerbuilder menyimpulkan,apa yang disampaikan oleh Johny “Mudah untuk menemukan Passion kamu, jika kamu mengerjakan sesuatu tanpa harus memikirkan bagaimana timbal baliknya. Itu namanya Passion”. Sosok seorang Johny patut dijadikan inspirasi bagi kita semua, karena dengan tidak memiliki background pendidikan yang baik, ia mampu berhasil bahkan bisa mendirikan sebuah usaha training.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s