May Day: Realita Para Tenaga Buruh Indonesia

mayday

Tanggal 1 Mei ini, kita semua memperingati hari Buruh Internasional atau yang biasa kita sebut dengan May Day. Hari tersebut merupakan salah satu momen penting dan bersejarah bagi dunia kerja internasional, dimana kita semua kembali diingatkan akan perjuangan para pekerja atau buruh yang sangat berjasa bagi kelangsungan dan kemajuan di berbagai sektor industri. Dari dedikasi para tenaga para buruh ini maka terciptalah banyak karya dan inovasi luar biasa yang memberikan kemajuan, terlihat dari banyaknya bermunculan teknologi baru di berbagai bidang, mulai dari industri bidang otomotif, alat-alat rumah tangga, produk pangan, tekstil dan garment, hingga produk kesehatan –Hampir semuanya terlahir dari tangan-tangan handal para buruh professional.

Namun pada kenyataannya, hingga kini eksistensi dari profesi buruh ini masih banyak dipandang sebelah mata oleh khalayak umum. Sebagaimana yang kita lihat saat ini bahwa hanya ada sedikit sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan kualitas sebagai tenaga ahli dan terampil, terutama di Indonesia. Sering kita dengar banyaknya kejadian kurang menyenangkan yang terjadi pada para buruh Indonesia, seperti kurangnya kesejahteraan dan jaminan sosial, minimnya fasilitas yang didapat, bahkan hingga kurangnya jumlah UMR (Upah Minimum Rata-Rata) yang didapat.

Dikutip dari Liputan6.com, mengenai upah buruh di Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementrian Perindustrian (Kemenprin), Imam Haryono, tingkat produktivitas mencapai 20 ribu dolar AS per pekerja. Untuk upah minimum rata-rata sendiri adalah sekitar 2,7 juta rupiah per bulan –Berdasarkan nilai tukar dolar terhadap rupiah, yaitu sekitar Rp. 12,000. Angka tersebut masih lebih besar dari pekerja di Thailand yang masih menginjak angka 2,3 juta rupiah per bulan.

Angka upah tersebut diperkirakan akan bergeser pada tahun 2019 –Dikutip dari Bloomberg. Diperkirakan upah karyawan pabrik di Indonesia akan naik sekitar 48%, yaitu sebesar 74 sen atau sekitar Rp 9.620. Walaupun terdapat peningkatan, namun tetap masih dibawah negara berkembang lainnya yaitu China, Vietnam dan Filipina.

Situasi ini menimbulkan keresahan, terutama bagi perusahaan dan pelaku industri lainnya karena banyaknya aski demo secara besar-besaran yang menyuarakan hak para buruh dari massa Serikat Pekerja (SP)/Serikat Buruh (SB). Padahal berdasarkan peraturannya, hak para buruh sudah dilindungi oleh undang-undang Serikat Pekerja/Serikat buruh –Seperti yang tertulis di pasal 28, UU No. 21/2000, yang menyatakan bahwa “Siapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota dan/atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja /serikat buruh dengan cara:

  1.  melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan, atau melakukan  mutasi;
  2. tidak membayar atau mengurangi upah pekerja/buruh;
  3. melakukan intimidasi dalam bentuk apapun;
  4. melakukan kampanye anti pembentukan SP/SB.

 

Dengan begitu para buruh dapat bebas memilih untuk mengikuti atau tidak mengikuti serikat pekerja/serikat buruh, dan perusahaan tidak berhak atas pemecatan buruh apabila buruh tersebut terdaftar sebagai anggota serikat pekerja maupun serikat buruh.

Selain bekerja di dalam negeri, banyak juga buruh yang dikirim ke beberapa negara maju untuk di jadikan pekerja pabrik maupun industri rumahan dan masih banyak nasib pilu yang dihadapi oleh para buruh imigran ini. Aksi kekerasan yang cukup sering dilakukan atasan atau majikan, yang berujung di pengadilan ataupun di rumah sakit serta situasi konflik di negara tempat mereka bekerja sudah sering terdengar di telinga masyarakat –Seperti yang saat ini tengah berlangsung, yaitu beberapa buruh imigran yang terjebak di negara konflik Yaman, Wartinah asal Indramayu salah satunya. Sampai saat ini keberadaannya belum dapat dikonfirmasi kembali. Ada juga Sutinah, seorang buruh imigran yang divonis hukuman mati karena membunuh majikannya yang padahal hanya ingin membela dirinya. Banyak juga buruh imigran yang pulang ke Indonesia hanya dalam bentuk jasad terbujur kaku akibat disiksa sang majikan.

Tapi tidak juga semua buruh bernasib buruk. Banyak juga buruh yang berprestasi dan kini berhasil menjadi pengusaha sukses. Sebut saja Usep Hermawan yang pernah bekerja menjadi buruh imigran di Jepang yang kini memiliki usaha pengrajin spare part otomotif di Bekasi, dan telah memiliki 70 karyawan. Atau juga cerita lain dari tanah Madura, Siman yang pernah bekerja di negeri jiran Malaysia. Kini ia telah berhasil menjadi pengusaha pemasangan perancah (Scaffolding) pada gedung-gedung bertingkat dan juga telah memiliki puluhan karyawan. Lalu ada juga Maizidah Salas yang berhasil menjadi sarjana hukum di Universitan Bung Karno Jakata. Maizidah juga dikenal sebagai pendiri koperasi buruh migran serta penggagas kelompok usaha ternak ayam Sekar Arum dan ternak kambing Mugi Rahayu bagi para mantan TKI.

Pada akhirnya, terlepas dari apapun situasinya, dedikasi dari para tenaga buruh ini haruslah mendapat apresiasi yang layak terutama dari kita sebagai sesama warga Indonesia. Bagaimanapun stigma miring yang beredar di tengah masyarakat, nyatanya kiprah para tenaga buruh ini telah memberikan sumbangsih nyata kepada negara, mengingat bahwa mereka inilah yang membuat roda perindustrian di negara kita ini masih terus berputar, yang berarti mereka ini merupakan salah satu sumber pemasukan atau devisa bagi negara yang tidak bisa dikesampingkan hak dan kepentingannya.

Selamat hari buruh untuk semua pekerja yang ada di segala bidang industri, baik itu di perusahaan, pabrik (manufaktur) maupun rumahan. Jasa dan dedikasi kalian tidak akan bisa tergantikan.

 

One thought on “May Day: Realita Para Tenaga Buruh Indonesia

  1. Sebenarnya pelaku usaha juga punya dilema.
    Misalnya seperti kami yang bergerak di bidang usaha transportasi barang. Persaingan harga sangat kompetitip.
    Beda 100Rb saja dengan transporter lain kami bisa kehilangan customer. Jadi agar tetap bertahan terpaksa kami perang tarif. Bagaimana kami bisa menaikkan upah dalam kondisi seperti ini?,
    Karena bisa bertahan saja sudah sukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s